Jumat, 29 Maret 2013 -
SOSIAL
0
komentar
SOSIAL
0
komentar
BUDAYA MATERI
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Apa makna benda-benda bagi manusia? Baik dari sudut pandang masyarakat
tradisional maupun masyarakat modern pertanyaan ini bisa dijawab dengan
dua hal, yang merupakan pokok kajian budaya materi (budaya pemanfaatan
benda-benda oleh manusia, bagaimana manusia berhubungan dengan benda).
pertama, benda-benda bisa diletakkan dalam perspektif fungsional saja.
Dalam perspektif ini sebuah piring berfungsi sebagai wadah makanan,
senjata berfungsi sebagai alat berburu dan mempertahankan diri terhadap
serangan musuh, sepatu berfungsi sebagai pelindung kaki dsb. Fenomena
peradagangan/ekonomi juga masih termasuk dalam perspektif ini. Yang
kedua, benda-benda bisa juga diletakkan dalam perspektifnya sebagai
totem, yaitu diasosiakan secara simbolik dengan sesuatu yang lain. Di
sini benda-benda berperan sebagai pembawa maknamakna sosial tertentu.
Cincin misalnya, yang tak terlalu penting dalam perspektif fungsional,
dalam perspektif totem bisa bermakna kecantikan, kekayaan, atau ikatan
kesetiaan dsb. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa benda-benda, seperti
diteorisikan Mary Douglas (antropolog) dan Baron Isherwood (ekonom)
(1979), mampu mengkongkretkan makna-makna sosial yang abstrak seperti
kesetiaan, kepatuhan, dsb.
Menurut Douglas dan Isherwood konsumsi benda-benda yang terjadi dalam
semua masyarakat adalah juga di luar perdagangan, ia selalu merupakan
sebuah fenomena kebudayaan, selalu berkaitan dengan nilai-nilai,
makna-makna, dan komunikasi. Benda-benda bukan hanya dipakai untuk
melakukan sesuatu, melainkan juga punya makna dan bertindak sebagai
tanda makna dalam hubungan sosial, selalu memamerkan seperangkat nilai
tertentu. Hal ini juga berarti bahwa dalam sirkulasi benda-benda telah
terjadi sebuah pertukaran simbolik.
Douglas dan Isherwood secara khusus menyelidiki upacara-upacara, baik
dalam masyarakat tradisional maupun modern, yang menurut mereka
berfungsi sebagai tempat untuk penciptaan makna benda-benda dengan cara
memperlihatkan kegunannya dalam upacara. Karena upacara-upacara
merupakan acuan klasifikasi seseorang dalam masyarakat, maka benda-benda
secara langsung berperan sebagai sumber identitas sosial dan pembawa
makna sosial.
Marshal Sahlins (1976) mengembangkan konsep totemisme ini untuk
menyelidiki konsumsi bendab-enda dalam masyarakat modern. Menurutnya,
jika masyarakat tradisional menggunakana benda-benda 'alamiah' (kayu,
batu, tulang dsb.) sebagai totem, maka totem masyarakat modern adalah
benda-benda buatan pabrik. Ia menunjukkan bagaimana sistem pakaian
masyarakat modern bukan sekedar seperangkat objek materi untuk membuat
hangat tubuh dsb., tetapi sebagai kode simbolik untuk mengkomunikasikan
keanggotaan dalam suatu kelompok sosial (priawanita, kelas ataskelas
bawah dsb.). Lewat pakaian masyarakat modern mengkomunikasikan
keanggunan perempuan, keperkasaan lakilaki, dan kehalusan kelas
bangsawan.
McCracken (1988) juga mengidentifikasi pemanfaatan benda-benda konsumen
dalam ritual-ritual masyarakat kontemporer. Ia mengajukan beberapa
ritual masyarakat kontemporer paling penting. Pertama, 'upacara
pemberkatan', yang meliputi pengumpulan, pembersihan, perbandingan, dan
pertunjukkan benda-benda.
Dekorasi kamar tidur dengan poster-poster. Upacara ini memungkinkan
pemiliknya mengklaim hak atas makna sebuah objek di luar batas
kepemilikan biasa. Ini merupakan cara mempersonalisasikan objek, cara
memindahkan makna dari dunia individu kepada benda yang baru diperoleh.
Ia mencontohkan upacara hadiah, misalnya pada hari ulang tahun, hari
natal, atau hari kasih sayang. Pemilihan dan pemberian benda-benda
konsumen oeh seseorang dan diberikan kepada orang lain merupakan sebuah
perpindahan makna. Seringkali sebuah benda dipilih sebagai hadiah karena
benda tersebut memiliki makna kepemilikan yang penuh yang ingin
diberikan kepada orang lain. Misalnya, seorang perempuan yang menerima
sebuah pakaian diundang untuk mendefinisikan dirinya menurut makna
gayanya; pemberi bunga atau coklat mungkin meminta penerimanya untuk
menunjukkan sifat kelembutan atau sifat yang manis. Dari perspketif ini,
pemberian benda-benda pada suatu upacara (hari ulang tahu, hari raya
dsb.) dapat dipandang sebagai sarana yang paling tepat dalam komunikasi
antarpribadi atau pengaruh antarpribadi.
Budaya materi, dalam pandangan Marx, adalah objektifikasi kesadaran
sosial. Ini berawal dari distingsi Marx antara produksi yang bermanfaat
langsung bagi pembuatnya dengan produksi yang semata-mata untuk
kepentingan pasar. Proses yang terakhir inilah yang disebut Marx benda
sebagai komoditas. Meskipun tak mengalami bentuk-bentuk budaya materi
modern, ia kemudian sampai pada konsep fetishisme komoditas yang
menggambarkan penyembunyian cerita tentang siapa dan bagaimana sebuah
objek dibuat.
Dalam fetishisme modern, kegunaan benda-benda didistorsi secara
sistematis oleh pencarian keuntungan kapitalis. Dan jelas bahwa
kebutuhan untuk mencari untung ini telah secara dramatis melahirkan
benda-benda baru yang dijual hanya untuk memanipulasi konsumen.
Theodore W. Adorno (1974), penginterpretasi Marx dari Kelompok Frankfurt
yang dihormati, mengintrodusir knsep nilai guna sekunder. Konsep ini
menunjukkan fenomen konsumsi dalam masyarakat inddustri dimana melalui
kemasan, promosi dan iklan, benda-benda dicocokkan dengan topeng-topeng
yang didesain secara ekspresif untuk memanipulasi hubungan yang mungkin
terjadi antara benda-benda pada satu sisi serta keinginginan, kebutuhan
dan emosi manusia di sisi lain. Nilai guna sekunder berjalan begitu
dominasi nilai tukar telah diatur untuk menghapus ingatan mengenai nilai
guna murni benda-benda. Ini adalah dasar bagi estetika komoditas,
dimana komoditas berperan bebas dalam asosiasi dan ilusi budaya yang
sangat luas. Iklan secara khusus mampu mengeksploitasi kebebasan ini
untuk menampilkan citra romantis, eksotik, kepuaasan, atau kehidupan
yang baik dengan memperkenalkan barang-barang konsumen seperti sabun,
mesin cuci, mobildan minuman beralkohol. Ini persis dengan yang
dikatakan Douglas dan Isherwood tentang kemampuan benda-benda untuk
mengkonkretkan maknamakna sosial yang abstrak, tetapi dalam hal ini
Adorno mampu menunjukkan peran media massa modern dalam proses
pengkongkretan ini.
Sejalan dengan langkah Adorno, Celia Lury (1996) menunjukkan bahwa
kelemahan studi budaya materi seperti yang dilakukan Douglas dan
Isherwood adalah bahwa mereka hanya memperlakukan benda-benda sebagai
media nonverbal untuk kemampuan kreatif manusia. Mereka gagal untuk
secara meyakinkan mengkaji isuisu mengenai kekuatan dan kontrol
simbolik.
Arjun Appadurai (1986) mempercanggih metodologi Douglas dan Isherwood
dengan secara langsung memusatkan kajiannya pada 'kehidupan sosial
benda-benda'. Ia menyatakan bahwa benda-benda bukan hanya bersifat
sosial dan budaya semata, melainkan benda-benda itu mempunyai kehidupan:
bobot dan otoritas benda dapat dipaksakan dalam kehidupan manusia,
karena memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keyakinan, memberi
kewajiban, penampilan, dan kesenangan.
Walaupun dari sudut teoritis manusia sebagai pelaku menandai benda-benda
dengan sebuah arti, namun dari sudut metodologis pergerakan bendalah
yang meghiasi konteks sosial dan kemanusiaan mereka.
Secara agak mengejutkan, benda-benda dikajinya secara naratif,
dituturkan sebagai kisah dengan sarana 'sejarah kehidupannya'. Pendeknya
ia menelusuri narasi benda-benda dan jalur lintasannya: darimana benda
berasal, siapa pembuatnya, apa gunanya, berapa 'umur' atau 'periode
kehidupan' benda tersebut, apa ciriciri budaya untuknya, bagiamana
kegunaan benda berubah sesuai umurnya dsb.
Contoh yang bagus untuk pendekatan model Appadurai ini adalah studi Dick
Hebdige tentang "siklus skuter Itali" (1988). Hebdige menyelediki apa
yang disebutnya dengan 'kepentingan budaya' sebuah objek. Kepentingan
ini digali dengan menelusuri perubahan arah yang dialmpaui dalam
sirkuasi benda-benda.
Strategi studinya adalah dengan mengikuti fluktuasi makna sosial skuter
dan kemudian menarasikannya; Hebdige menunjukkan. bahwa skuter yang mula
diasosiakan dengan status sosial yang rendah karena bentuknya yang
mirip mainan anak-anak , kemudian melonjak menjadi objek yang dipuja
karena diasosiakan dengan kenecisan dan modern pada awal '60an, dan
kemudian status skuter yang sekarang adalah sebagai benda nostalgia.
Pada awal peluncurannya, skuter didefinisikan sebagai 'perempuan', ia
dianggap sebagai kendaraan lakilaki. Dan sebagai perempuan, skuter
dihidupkan dalam harapan mengenai 'perkawinan'.
Pabrik-pabrik motor di Inggris, yang terkenal dengan 'kelelakiannya'
kemudian dipaksa memproduksi skuter, sebuah kendaran yang lebih
'feminin' dan 'ramping'. Pada awal kemunculannya di Inggris, dengan
dalih "referensi maskulinitas dan keperkasaan", skuter secara moral
bahkan dicurigai sebagai anti etos kerja keras.
Tetapi kemudian 'perkawinan' antara sepeda motor dan skuter berlangsung
juga.
Hebdige mencontohkan bahwa pada tahun '50-an skuter adalah ancaman
terbesar bagi industri sepeda motor Inggris; dalam sebuah pameran 3
sepeda motor harus bersaing dengan 50 skuter. Skuter kemudian menjalani
hidup baru setelah 'percerainnya' dengan sepeda motor. "Keitalian"
sebuah skuter menjadi penting, dan kefisienan desainnya menjadi simbol
objek masa depan. Keriangan kehidupan baru skuter ini kemudian berubah
sejak pertemuannya dengan klub-klub pecinta skuter dan balap skuter.
Pertemuan ini ini membawa skuter kepada identitas sebuah subkultur
tertentu.
Dan di masa-masa akhir hidupnya, dengan hadirnya sekolah-sekolah desain
produk modern, kesempurnaan desain skuter didramatisir dan menjadi ajang
estetikasi kehidupan sehari-hari. Kejayaan skuter akhirnya benar-benar
runtuh karena munculnya sepeda motor-sepeda motor kecil buatan Jepang,
juga karena kewajiban memakai helm yang membuat naik skuter tak setrendi
pada masa-masa sebelumnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar